Arsip Kategori: PUISI

MENDEMONSTRASIKAN PUISI

Pernahkah kalian melihat seseorang yang membacakan puisi dengan penghayatan yang baik? Ya … Seseorang yang dengan kemampuan terbaik mengekpresikan isi puisi secara baik dan tepat. Akibatnya apa? Kita yang ikut menonton dan menyimak pembacaan puisi tersebut terlibat dalam emosi si pembaca. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena si pembaca puisi mampu mengandalkan permainan vokal, tetapi juga memerhatikan ekspresi, intonasi, dan gerakan tubuhnya saat membaca puisi.

Nah pada kesempata saat ini kita akan belajar mendemontrasikan puisi.    

Ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mendemontrasikan puisi. Pertama mendeklamasikan puisi dan kedua dengan musikalisasi puisi.

I.                DEKLAMASI PUISI

Deklamasi berasal dari bahasa Latin “declamare atau declaim” yang memiliki arti membaca suatu hasil karya berbentuk puisi disertai lagu dan gerak tubuh sebagai alat bantu dalam pembawaannya.

Pengertian Deklamasi Menurut KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), deklamasi adalah penyajian sajak yang disertai lagu dan gaya. Berdekamasi adalah sajak yang disertai gerak dan mimik yang baik. Mendeklamasikan adalah menyajikan sajak dengan berdeklamasi. Deklamasian adalah hasil mendeklamasikan. Pendeklamasian adalah proses atau cara atau perbuatan mendeklamasikan sajak.

Menurut Abdullah Syukur Ibrahim, deklamasi adalah peristiwa seni, yaitu seni mengungkapkan sebuah puisi kepada pendengarnya dengan gerak-gerik, mimik, dan sebagainya. Dengan kata lain, deklamasi merupakan seni bercerita.

Jadi, deklamasi adalah membaca puisi yang dibawakan dengan lagu dan gerak tubuh sebagai alat bantu pembacaan puisi.

Bagaimana Membacakan Puisi?

Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan.

1.      Rima dan irama.

Membaca puisi berbeda dengan membaca sebuah teks biasa karena puisi terikat oleh rima dan irama sehingga dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun juga terlalu lambat.

2.      Artikulasi atau kejelasan suara.

Suara kita dalam membaca puisi harus jelas, misalnya saja dalam mengucapkan huruf-huruf vokal /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ai/, /au/.

3.      Ekspresi mimik wajah.

Ekspresi wajah kita harus bisa disesuaikan dengan isi puisi. Ketika puisi yang kita bacakan adalah puisi sedih, maka ekspresi mimik wajah kitapun harus bisa menggambarkan isi puisi sedih tersebut.

4.      Mengatur pernapasan, artinya pernapasan harus diatur jangan tergesa-gesa.

Sehingga tidak akan mengganggu ketika membaca puisi.

5.      Penampilan

Kepribadian atau sikap kita saat di panggung usahakan harus tenang, tak gelisah, tak gugup, berwibawa, dan meyakinkan (tidak demam panggung).

6.      Selain hal-hal di atas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan membacakan puisi yaitu sebagai berikut.

A.    Vokal

Suara yang dihasilkan harus benar. Salah satu unsur dalam vocal ialah artikulasi (kejelasan pengucapan). Kejelasan artikulasi dalam mendemonstrasikan puisi sangat perlu. Bunyi vokal seperti /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ai/, /au/, dan sebagainya harus jelas terdengar. Demikian pula dengan bunyi-bunyi konsonan.

B.     Ekspresi

Ekspresi ialah pengungkapan atau proses menyatakan yang memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, dan perasaan. Ekspresi mimik atau perubahan raut muka harus ada, namun harus proporsional, sesuai dengan kebutuhan menampilkan gagasan puisi secara tepat. Ekspresi dilahirkan dalam bentuk mimic (perubahan raut wajah) dan panto mimic (perubahan gerak anggota tubuh).

C.     Intonasi (tekanan dinamik dan tekanan tempo)

Intonasi ialah ketepatan penyajian dalam menentukan keras-lemahnya pengucapan suatu kata. Intonasi terbagi menjadi dua yaitu tekanan dinamik (tekanan pada kata-kata yang dianggap penting) dan tekanan tempo (cepat lambat pengucapan suku kata atau kata).

D.    Lafal

Lafal adalah pengucapan sebuah kata atau bunyi bahasa. Misalnnya kata-kata dalam puisi harus diucapkan dengan jelas. Kata apa harus diucapkan dengan jelas apa.

E.   Volume suara.

Merupakan keras lemahnya pengucapan kata atau bunyi. Memerhatikan volume suara saat mendeklamasikan puisi juga salah satu aspek penting. Kamu dapat memakai volume keras dan lemah saat mendeklamasikan puisi. Keras lemahnya suara sesuai dengan isi puisi. Namun, usahakan pendengar tetap mendengar suaramu. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan menggunakan volume lemah saat membacakan puisi yang menyatakan kesedihan. Saat puisi menandakan kemarahan, kamu bisa membacanya dengan volume lebih keras.

Latihan Membacakan Puisi

1.      Membaca dalam hati puisi tersebut berulang-ulang.

2.      Memberikan ciri pada bagian-bagian tertentu, misalnya tanda jeda. Jeda pendek dengan tanda (/) dan jeda panjang dengan tanda (//). Penjedaan panjang diberikan pada frasa, sedangkan penjedaan panjang diberikan pada akhir klausa atau kalimat.

3.      Memahami suasana, tema, serta makna puisinya.

4.      Menghayati suasana, tema, dan makna puisi untuk meengekspresikan puisi yang kita baca.

Perhatikanlah contoh puisi (sebelum diberikan tanda jeda) berikut ini!

Sajak Matahari

Karya: W.S. Rendra

Matahari bangkit/ dari sanubariku//

Menyentuh permukaan/ samodra raya.//

Matahari keluar dari mulutku,/

menjadi pelangi di cakrawala.//

Wajahmu keluar/ dari jidatku,//

wahai kamu,/ wanita miskin!//

kakimu terbenam/ di dalam lumpur.//

Kamu harapkan beras/ seperempat gantang,//

dan di tengah sawah/ tuan tanah menanammu!//

Satu juta lelaki gundul/

keluar dari hutan belantara,//

tubuh mereka terbalut lumpur/

dan kepala mereka berkilatan/

memantulkan cahaya/ matahari.//

Mata mereka menyala/

tubuh mereka menjadi bara/

dan mereka membakar dunia.//

Matahari adalah cakra jingga/

yang dilepas tangan/ Sang Krishna.//

Ia menjadi rahmat/ dan kutukanmu,/

ya,/ umat manusia!//

Tanda jeda uyang diberikan di naskah puisi merupakan langkah awal dalam pembacaan puisi. Dengan tanda baca diharapkan pembacaan bisa dilakukan secara tepat sehingga makna puisi bisa disampaikan kepada pendengar secara tepat.

Nah,sekarang silakan dipilih sebuah puisi untuk mepraktekkan teknik deklamasi puisi. Pahami secara baik isi puisi dan makna puisi, beritanda pada naskah puisi dan mulailah untuk membacakan puisi tersebut.

II.                Musikalisasi Puisi

Tentunya kalian pernah menonton sebuah puisi yang kemudian dinyanyikan atau diiringi musik dalam membacakannya. Beberapa musisi yang sering memusikalisasi puisi diantaranya, Crisye, Bimbo, Ebit G Ade, Uly Sigar Rusadi serta Iwan Fals dan lain sebagainya.

Contoh syair puisi dimusikalisasi.

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Lirik : Taufiq Ismail

Lagu: Chrisye

Akan datang hari

mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa

tak ada suara

Dari mulut kita

Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita

bila harinya

Tanggung jawab tiba

Rabbana…

Tangan kami…

Kaki kami…

Mulut kami…

Mata hati kami…

Luruskanlah…

Kukuhkanlah…

Di jalan cahaya….

sempurna

Mohon karunia

kepada kami

HambaMu yang hina

Lagu tersebut merupakan puisi yang dinyanyikan dengan iringan musik. Inilah yang disebut dengan musikalisasi puisi. Tujuan musikalisasi puisi adalah memudahkan pendengar memahami makna puisi yang ingin disampaikan penyairnya. Selain itu, dengan dijadikan nyanyian, sebuah puisi akan lebih mudah diingat oleh pendengarnya.

Silakan dipilih beberapa file yang terdapat di youtube untuk menonton video musikalisasi puisi. Setelah memahami kalian bisa mepraktekkan ilmu tersebbut, baik hanya dalam bentuk deklamasi puisi ataupun musikalisasi puisi.

Daftar Pustaka

Suherli, Maman Suryaman, Aji Septiaji, Istiqomah. BUku Sekolah Elektronik Bahasa Indonesia Kelas X. Revisi 2017. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Jakarta.

https://id.wikipedia.org/wiki/Seni_pertunjukan.

MENGGUNAKAN METODE AKROSTIK UNTUK MENCIPTA PUISI

Secara umum orang mengatakan Puisi Akrostik ini digunakan sebagai media bagi pemula untuk menuangkan ide dalam bentuk puisi.

Akrostik berasal dari bahasa Prancis acrostiche danYunani akrostichis. Memiliki arti sebuah sajak yang huruf awal baris-barisnya menyusun kata. Puisi arkostik biasanya membicarakan apa yang menjadi susunan huruf yang membentuk sebuah kalimat di awal baris. Judul puisi merangkap sebagi isi yang akan diungkapkan dalam uraian kata-kata dalam puisi tersebut.

Pola rima dan jumlah larik dapat bervariasi karena puisi akrostik lebih dari puisi deskripsi yang menjelaskan kata yang dibentuk.

Akrostik mungkin terdengar rumit, padahal tidak! Hanya harus mengingat huruf pertama dari tiap baris, yang jika dibaca secara vertikal akan mengeja judul puisi tersebut. Judul umumnya satu kata, tapi bisa lebih jika suka dan mampu.

Langkah-langkah menulis Puisi Akrostik

  1. Pesiapan segala keperluan untuk menulis

Persiapan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung penulisan puis, seperti pulpen, buku, laptop atau smartphone. Juga mempersiapkan hati, kefokusan

2. Pengalaman menarik diabadikan

Kenangan tentang sebuah kejadian yang menjadi sebuah memoar bisa dijadikan judul. Judul sekaligus sebagi topic yang akan diangkat.

3. Urut secara vertikal awalan judul

Mengurut judul secara vertical.

Contoh judul puisi kita JANJI, maka diurut secara vertical dan ditebalkan.

JANJI

J                         

A

N

J

I

4. Mulailah menyusun kata menjadi kalimat

Disusun secara apik sehingga membentuk makna sesuai dengan gagasan awal.

Contoh

JANJI

J alinan persepi yang menguatkan

A antara iya, tiada danakan

N uansa yang tak pernah lelap, bagai baying tak pernah pergi dari badan

J ulurkan waktu untuk menepati

I ngkar bukan prilaku amanah

5. Kembangkan imaji

Pengarang harus mampu mengembangkan indera terus berkembang sehingga bisa merasakan baik secara penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perasaan, ataupun perabaan.

6. Manfaatkan gaya bahasa.

Maksimalkan penggunaan majas smile (bak, bagaikan, laksana, seumpama, dll) dan majas metafora (menyamakan sifat benda dengan prilaku mahluk hidup). Sehingga tercipta nuansa tertentu  dari  yang disampaikan.

7. Diksi yang tepat  tetap dalam pilihan utama.

Pilihan kata yang tepat akan menggambarkan daya cipta maksimal, sehingga nuansa sastra masih terjaga.

8. Editing

Lakukan editing terhadap tulisan yang dibuat. Editing bisa dilakukan untuk memilih kata yang tepat dan sesuai dengan makna yang terdapat dalam topik. Kata-kata yang bermakna abstrak bisa dicarikan sinonoim sehingga bisa lebih konkret.

9. Simpan puisi akrostik

Jika dirasa cukup puisi bisa dibukukan.

Contoh

RUANG RINDU

Ahdati Warman

Resah menggerayangi seumpama malam tak berbintang

Undukkan waktu tertekan asa

Asa yang mengendap bagai lumpur dalam tempayan

Nanar waktu berpencar menggapai selembar mimpi

Gamang sekedar berharap menatap wajah sucimu

Renyah menggigit di tepian hati yang tertekan harap

Ingin menatap kesejukkan suci relung terindah

Nelangsa diri bergumul dalam rintihan dosa

Dari sepucuk doa peneduh bagai mengharap setetes air di padang pasir

Untuk menggapai harap dibimbing syafaatmu ya Rasulullah

Demikian kupasan kita mengenai memanfaatkan metode akrostik dalam menulis puisi.

Mulailah menulis puisi dalam bentuk akrostik.

PUISI: MENGANALISIS UNSUR PEMBANGUN PUISI

PUISI adalah karya seni tertulis yang berisi ungkapan perasaan dengan menggunakan bahasa yang bermakna semantis serta mengandung irama, rima, dan ritme dalam penyusunan baris dan baitnya.

Puisi secara umum dibangun oleh dua unsur utama, yaitu unsur Instrinsik dan Unsur Ekstrinsik

Unsur Instrinsik adalah unsur-unsur yang terdapat di dalam naskah puisi.

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar naskah puisi.

I.                    Unsur Instrinsik

Unsur intsrinsik terdiri atas dua bagian utama, yaitu Struktur Batin dan Struktur Fisik.

Struktur Batin adalah struktur yang tergambar dari emosi atau pergerakan perasaan dari penulis

A.      Struktur Banting itu

1.       Tema

Tema adalah gagasan pokok yang melandasi lahirnya sebuah puisi

Tema ini cerminan utama sebuah tulisan.

2.       Rasa

Rasa atau feel adalah pengungkapkan sikap yang dilakukan oleh penyair tentang tema/ permasalahan yang diangkat dalam puisi

3.       Nada

Nada atau tone berhubungan dengan tema dan rasa. Pensyair bisa mengungkapkan nada secara mendikte, menggurui, menunjuk, sombong, taat, patuh, penurut ataupun pembangkang

4.       Amanat

Amanat ada hubungan dengan pesan yang ingin disampaikan oleh penysair dalam puisi.

B.      Struktur Fisik

1.       Diksi (pilihan kata)

Bagaimana si pensyair memilih kata-kata yang tepat. Sesuai dengan tema yang diangkat.

2.       Gaya Bahasa

Penggunaan beberapa majas yang membuat syair semakin berisi dan berjiwa.

3.       Rima

Pengulangan suku kata baik di awal, di tengah ataupun di akhir baris dalam satu bait puisi

4.       Tipografi

Bentuk penyusunan baris atuapun bait dalam puisi, yang mampu menggambarkan isi atau maksud puisi tersebut.

5.       Rasa

Rasa biasa juga disebut sebagai emosional penulis yang terlibat dalam pemilihan kata-kata sehingga bisa menggambarkan kemarahan, kesedihan, keharuan, kebencian, keheranan, dll

6.       Amanat

Pesan yang disampaikan oleh penulis dalam rangkaian cerita puisi

7.       Nada

Sikap pensyair terhadap si pembacanya, apakah mengembangkan sikap rendah hati, rendah diri, sombong, menggurui, dan mendikte atau persuasif.

8.       Enjabemen

Pemotongan frasa atau kalimat diakhir larik. Dan memulai dengan larik tersebut, hal ini dillakukan untuk memberikan penekanan pada apa yang ingin disampaikan.

9.       Akulirik

Penokohan yang tergambar dari rangkaian larik-larik,

10.   Citraan

Gambaran imaji yang disampaikan oleh pensyair dalam setiap pilihan kata dan itu juga mempengaruhi si pembaca.

11.   Kata konkret

Penggunaan kata-kata yang tepat maknanya atau bermakna denotasi

12.   Perasaan (feeling)

Sikap penyair taehadap isi puisinya, seperti simpati, empati, konsisten, senang, sedih atau kecewa dan lain sebaginya.

13.   Ritma

Panjang pendeknya atau tinggi rendahnya ataupun keras lemahnya bunyi dalam setiap kata dalam baris maupun bait puisi.

II.      Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur dari faktor luar yang ikut mendukung lahirnya sebuah puisi.

Terdiri atas

1.       Unsur biografi

2.       Unsur nilai-nilai dalam masyarakat

3.       Keadaan sosial budaya dan ekonomi dalam suatu kelompok masyarakat.

Contoh Analisis Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik Puisi

AIR LAUT

Air laut berlari menggapai pantai

Detik demi detik berlalu tak pernah lelah

Apa yang engkau cari?

Apakah engkau takut kehilangan pantaimu?

Gemuruhmu memancing hati melempar tanya

Menemukan Jawaban

Dari butir yang berlari menyampaikan pesan

Jawab memecah seiring derai air leburkan diri.

Rasamu asin mengenali lidah

Percikanmu mengenai mencari rasa

Agar engkau dikenali

Siapa engkau!

Unsur Instrinsik

Struktur Batin

1.       Tema : Air Laut

2.       Nada  : Tenang dan penuh tanda tanya atas kejadian alam

3.       Rasa   : kekaguman atas kejadian alam

4.        Amanat : mensyukuri setiap kejadian dan ciptaan Allah Swt

Struktur Batin

1.       Diksi            : Pilihan kata – kata sederhana melihat air laut yang selalu menepi ke pantai

2.       Gaya Bahasa :

Personifikasi

Air laut berlari menggapai pantai

 Air tidak memiliki kaki tapi bisa berlari, yang bisa berlari hanya makhluk hidup yang memiliki kaki.

3.       Rima

Air laut berlari menggapai pantai

Rima yang terbentuk di tengah dan diakhir baris, disini pada kata berlari menggapai pantai.

 Rima akhir di baris pertama dan bariske ketiga di baris ketiga

Air laut berlari menggapai pantai

Detik demi detik berlalu tak pernah lelah

Apa yang engkau cari?

4.       Tipografi

Tersusun atas tiga bait dengan masing-masing bait tediri atas  empat baris.

5.       Rasa

Kekaguman pensyair yang dituangkan dalam kata-kata melihat keadaan air laut yang terus menggapai pantai.

6.       Amanat

Bersyukur ciptaan Allah Swt yang menciptakan alam dengan segala kesempurnaanNya.

7.       Rasa

Kerendahan hati si penyair akan keadaan alam sekitar.

8.       Enjabemen

Tidak ada

9.       Aku lirik

Sudut orang pertama yang mengalami kejadian alam

10.   Citraan

Penglihatan

Air laut berlari menggapai pantai

Jawab memecah seiring derai air leburkan diri.

Perasaan

Apakah engkau takut kehilangan pantaimu?

Pendengaran

Gemuruhmu memancing hati melempar tanya

Pengecap

Rasamu asin mengenali lidah

11.   Kata konkret

Air laut berlari menggapai pantai

Makna kata air laut dan makna kata pantai adalah makna yang sebenarnya

12.   Perasaan

Simpati dan berempati atas kejadian alam yang terus mengikuti perintah Allah Swt.

13.   Irama

Kesyahduan mengikuti irama alam

Unsur ekstrinsik

1.       Nilai Religius: menghargai ciptaan Allah Swt. Mengakui keagungan atas ciptaan Allah Swt.

2.       Biografi          pengarang yang menghargai ciptaan Allah Swt.