Hari Senin/ 18 Desember 2019
Sekitar pukul 03.00 WIB saya terbangun, langsung bergegas ke kamar mandi. Tidak lupa membawa peralatan mandi dan pakaian ganti. Selepas bebersih, langsung menunaikan sholat Tahadjut. Baru setelah selesai sholat, saya membangunkan istri untuk segera beberes, karena perjalanan akan segera dilanjutkan.
Sekitar pukul 04.00 WIB kami melanjutkan perjalanan. Penerangan dari lampu jalan cukup membantu perjalanan. Cahaya lampu dari si gleborpun sangat terang untuk keadaan yang gelap di lintas Martapura menuju Baturaja. Perjalanan dilakukan dengan santai, ku lihat speedometer menunjuk angka 40-50 km per jam. Kecepatan yang standar untuk perjalanan malam menjelang subuh. Kita juga harus mengantisipasi jika ada binatang yang tiba-tiba melintas. Jalanan yang kami tempuh dalam keadaan baik, hanya pada beberapa titik terdapat jalan yang rusak.
Tak terasa, Azan Subuh pun bergema, di penunjuk speedometer terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Beberapa penduduk sudah nampak keluar rumah untuk menuju ke masjid terdekat. Sembari berjalan kami mencari masjid yang bisa disinggahi untuk menunaikan sholat. Akhirnya kami menemukan masjid di pinggir jalan yang terdapat diantara beberapa rumah penduduk. Alhamdulillah, masih diizinkan oleh Allah untuk menunaikan kebutuhan ini.
Selesai menunaikan sholat Subuh, kembali kami memacu si glebor menuntaskan pertualangan di jalan lintas Sumatera. Kota Baturaja ada di depan, selanjutnya kami akan melewati Tanjung Enim. Selepas itu akan melewati Muara Enim, kemudian Lahat. Ini merupakan daerah-daerah yang dari segi keamanan sangat rawan.
Di daerah Muara Enim, ada Simpang Meo yang terkenal sebagai daerah pemalakkan. Apalagi kalau kita menempuh daerah ini dikala malam hari. Makanya, jika sudah lebih dari pukul 21.00 WIB disarankan tidak melewati jalan ini lagi. Atau kalau masih mau melakukan perjalanan malam, maka carilah teman untuk konvoi agar bersama-sama melewati daerah ini. Tapi untuk jalan yang ditempuh jalan cukup mulus, hanya pada beberapa tempat ada bagian yang rusak. Kiri kanan kita akan disuguhkan hutan belantara, pada beberapa bagian akan terdapat perkebunan sawit ataupun pekebunan karet. Diajak untuk memperlihatkan kemampuan mengendarai kendaraan, banyak tikungan yang menantang adrenalin. Berasa seperti seorang pembalap Moto GP ha … ha … ha …
Selepas Muara Enim kita akan memasuki daerah Lahat. Di kiri kanan jalan akan disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Hutan belantara terkembang luas, kadang kita dihadapkan jurang yang sangat dalam. Nah perlu kehati-hatian menempuhnya. Melewati daerah sini usahakan pada siang hari, karena keadaan daerah yang seperti itu. Siang saja sepi apalagi malam. Jalan berliku-liku adalah santapan yang bagus bagi sang petualang, apalagi kalau melintasinya dengan menggunakan kendaraan roda dua. Sempurna dah pertualangan yang dilakukan. Kami waktu melewati daerah ini masih tergolong pagilah, sekitar pukul 10.00 WIB.
Perjalanan terus kami lanjutkan, Tebing Tinggi kami jelajahi. Topografi daerah hampir sama dengan keadaan di daerah sebelumnya. Daerah perbukitan, kiri kanan bertemu dengan hutan belantara atau hutan sawit. Hanya pada beberapa tempat terdapat rumah masyarakat. Keadaan jalan waktu itu tidak terlalu rame, tapi ada beberapa mobil pribadi yang berada di depan ataupun di belakang. Keberadaan beberapa mobil memberikan rasa nyaman saat melewati jalanan yang terkenal dengan keangkerannya. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB keadaan jalanpun cukup bagus. Hanya pada beberapa titik terlihat ada lubang, tapi kehati-hatian tetap mejadi pilihan utama dan juga berserah diri pada Allah, agar diberikan kemudahan dan kesabaran dalam perjalanan.
Lepas dari daerah Tebing Tinggi, kami melewati daerah Lahat. Daerah yang juga terkenal dengan keangkeran perjalanan. Apalagi kalau perjalanan itu dilakukan saat malam hari. Siang yang terang terasa sepi, apalagi kalau perjalanan dilakukan pada malam hari. Selama perjalanan beberapa kali berpapasan dengan bus. Baik bus yang akan melakukan perjalanan ke daerah Jambi, Palembang, Pekanbaru, dan Padang, ataupun ke Medan serta Aceh. Topografi daerah yang berbukit berdampak jalan yang juga berkelok-kelok. Tapi keadaan jalan yang ditempuh dalam keadaan cukup baik, hanya pada beberapa titik terlihat jalan yang baru saja ditambal. Kiri kanan kita disuguhi perkebunan kelapa sawit dan karet serta hutan belantara. Kalau berjalan malam tentunya daerah ini termasuk daerah yang seram, apalagi kalau melintas hanya satu kendaraa. Perlu perhitungan matang untuk melewati daerah ini. Pada waktu kami melewati jalan ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 – 12.00 WIB.
Sekitar pukul 12.10 kami sampai di SPBU, sebelum memasuki kota Lubuk Linggau. Sejenak kami istirahat disini, selain karena tangki si Glebor juga harus diisi, perut kami juga sudah saatnya diisi. SPBU yang cukup luas, ada deretan toko, salah satunya toko swalayan. Sebuah masjid berdiri kokoh di dalam komplek SPBU. Tempat parkir yang juga cukup luas, saat kami mulai berhenti kemudian disusul oleh beberapa kendaraan lain. Dari plat nomornya terlihat, kendaraan tersebut ada yangberasal dari Lampung, Jambi dan tentunya dari daerah sekitar. Memanfaatkan waktu istirahat dengan memesan beberapa makanan kecil dari pedagang asongan yang terdapat di SPBU ini.
Sekitar pukul 13. 10 WIB kami melanjutkan perjalanan, menuju kota Lubuk Linggau. Jalan yang ditempuh cukup bagus tapi berkelok-kelok. Sekitar 20 menit kemudian kami bertemu dengan bundaran, ada empat alternative jalan yang ada di hadapan. Karena kita menuju ke Lubuk Linggau makan jalan diambil mengarah lurus, jadi sedikit memutar kearah kiri Bundara. Jalan terus lurus, selepas bundaran akan bertemu dengan Kantor Mapolres Lubuk Linggau di sebelah kiri jalan sedangkan sebelah kanan Masjid Agung Musi Rawas Darussalam. Masjid yang besar dengan halaman yang luas bercat dominan warna hijau.
Selepasnya kami teruskan perjalanan jalan yang sangat mulus. Tapi kali ini kami tidak melewati jalan kota, sebelum ke kota ada pertigaan, kami masuk kearah kanan, ternyata bus juga melewati jalan ini. Kata beberapa pengendara ini merupakan jalan yang biasa ditempuh oleh bus, supaya tidak terjebak di kemacetan kota. Melewati jalur ini bisa menghemat waktu tempuh sampai 30 menit.
Selanjutnya jalan yang kami tempuh antara kota Lubuk Linggau menuju ke Sarolangun terasa sangat mulus. Sangat jarang kami menemui jalan yang rusak. Dengan kontur jalan yang lurus, di beberapa titik ada tikungan tapi tidak seperti menempuh daerah Tebing Tinggi. Di sini memancing adrenalin untuk menggeber kemampuan si glebor. Dengan aliran darah yang kian memacu, gas terus dinaikkan sampai kecepatan terakhir. Mentok di angka 115 km per jam kemapuan si glebor membawa kami berlari. Mantapnya kemampuan aerox ini, dengan kecepatan segitu tidak membuat motor bergoyang, tetap berlari kokoh dan kian mantaps untuk diajak berpacu.

Kota Sarolangun kami tinggalkan dengan hanya melewati bak angin berburu waktu. Kami akan menuju kota Bangko dan Muaro Bungo. Waktu yang kian sore, memancing gairah untuk mempercepat waktu perjalanan sehingga bisa sampai di waktu yang lebih tepat. Dengan jarak 154 km akhirnya disaat azan Maghrib bergema kami sampai di kota Muara Bungo. Mampir sebentar di Masjid pinggir jalan untuk menunaikan sholat Maghrib. Selesai sholat kami teruskan perjalanan. Pemandangan sore yang sangat menyenangkan, banyak penduduk yang keluar, ternyata berburu durian. Ya … saat ini dari daerah Sumatera Selatan sampai Jambi sedang musim buah Durian. Di sepanjang jalan terlihat penduduk banyak membuka lapak untuk berjualan. Semarak wewangiannya tercium pada saat kami melewatinya. Tidak mau melewati kesempatan ini, kamipun mampir untuk menikmati durian asli yang jatuh dari pohon. Untuk seukuran bola futsal dijual sangat murah, tapi ini tergantung proses tawar menawar. Kami bisa menukarnya dengan uang 15.00 perbuahnya, tapi rasanya itu sangat mengigit di lidah. Wah … dibayar tunai keinginan merasakan durian jambi yang terkenal lezat dan gurih.
Puas menikmati durian Jambi, kami pun melanjutkan perjalanan. Di jam jarum sudah menunjukkan ke pukul 19.30 WIB. Saatnya melanjutkan perjalanan, untuk mencapai Bukittinggi masih harus melahap 305 km lagi. Baru beberapa menit melakukan perjalanan, perut berkeruyuk pertanda sudah saatnya diisi. Di pinggir jalan banyak terdapat penjual makanan, baik makanan kecil ataupun makan berat. Mata tertuju ke penjual pecel ayam/ lele. Langsung saja mengarah ke sana. Belum sempat memberhentikan motor, bau yang sangat wangi semarak keluar dari penggorengan di warung ini. Hal ini semakin membuat perut memberontak untuk segera diisi.
Sedap sekali … nyam – nyam, apalagi sambalnya, sesuatu banget. Selesai menyantap nasi pecel dengan ayamnya kami mulai berberes untuk segera melanjutkan perjalanan. Waktu sudah menunjuk ke pukul 20.30 WIB. Jalanan kota masih cukup ramai oleh anak-anak muda yang nongkrong di pinggir jalan atau lalu lalang di jalanan. Nampak sepanjang jalan beberapa komunitas motor memarkir kendaraanya dengan pengemudinya asyik bercerita ngolar ngidul.
Sekitar sejam setengah perjalanan dilakukan, kami bertemu dengan SPBU Saumil, tidak jauh dari pertigaan Saumil. Dengan pertimbangan banyak hal akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di sini. Akan menghabiskan malam di mushola SPBU kemudian akan melanjutkan perjalanan di esok harinya. Tanpa membuang waktu segera diparkirkan kendaraan tidak jauh dari Mushola, kelihatan beberapa pengendara lain juga sudah ada. Beberapa mobil yang akan melakukan perjalanan jauh terparkir di deretean parkir depan Mushola. Kelihatannya pengemudinya juga kelelahan dan ingin mengistirahatkan badan di sini, agar esok mempunyai stamina yang baik untuk meneruskan perjalanan. Tapi, dari sekian banyak kendaraan hanya kami yang roda dua dengan plat nomor F lagi. Beberapa pasangmata ,menatap kearah si glebor diikuti telunjuk yang menelisik keberadaan si glebor. “Itu dari Bogor tuh”. Barangkali itu salah satu kalimat yang keluar dari mulut mereka.


Bersambung ke Episode 3


























