MENULIS PUISI

Membangun JIwa Menulis di kalangan siswa

Sudah belajar teori PUISI kan?  Sudah paham? Ada yang ingin ditanyakan?

Semoga sudah paham ya?

Pertemuan saat ini kita akan membahas menulis puisi ?

Menulis ?

Ya Menulis!

Insyaa Allah mudah kok! Tidak usah berpikiran saya tidak mampu, tapi berpikiranlah saya mampu dan ikhlas untuk mengerjakannya! Ok?

Setiap manusia itu bisa melakukannya, baik yang berbakat atau tidak berbakat, yang penting dia mau belajar dan melakukannya!

Bagaimana menulis puisi? Tentunya itu yang tengiang di pikiran kita ya?

Secara difinisi Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. (https://id.wikipedia.org/wiki/Menulis).

Jadi, menulis puisi adalah proses menuangkan gagasan yang dipikirkan dengan menggunakan kata-kata yang tepat dan baik serta sesuai ke tema yang diangkat.

Mebiasakan Mendiskusikan Hasil Karya

Bagaimana menuangkan perasaan tadi dalam bentuk kata-kata puitis?

  1. Sesuaikan dengan suasana atau perasaan atau hati.

Hati berpengaruh penting dalam menuangkannya. Hati tentunya berhubungan dengan perasaan. Perasaan bahagia, senang, gembira serta perasaan yang sedang tidak tentu atau galau bahasa anak muda sekarang. Bisa juga perasaan yang sedang sedih, haru, tragis melihat sesuatu. Kembangkan perasaan simpati dan empati yang dimiliki. Kalau itu sudah ada maka gampang untuk meneruskan dalam menuliskan apa yang terpikirkan.

2. Giring pemikiran ke gagasan awal yang sudah terbentuk.

Memetakan tema yang terasa dalam perasaan tadi disatukan dengan pemikiran. Misalnya kita sedang takjub dengan salah satu ciptaan Allah, kebetulan kita sedang bermain di alam, seperti pantai, yang membuat hati begitu bersyukur.

3. Membawakan suasana dalam pemikiran.

Kita sedang memikirkan apa tentang pantai? Amati air laut yang bergelombang, menggapai pantai di setiap waktu. Terus menerus tanpa lelah. Rasakan bagaimana gelombang yang silih berganti menuju pantai. Usaha yang tidak pernah putus. Nikmati suara gemuruh yang ditimbulkannya. Masukan perasaan dan pemikiran dalam gejala alam tersebut. Kalau terpetik kata-kata di pikiran, nah kata tersebut langsung ditulis atau dicatat.

Cari dan gunakan kata-kata kunci untuk mengungkannya. Perbanyak sinonim kata yang bisa kita kuasai untuk memperkaya isi puisi. 

4. Bawa semua perasaan untuk terlibat dengan tema yang diinginkan

Lihat dan amati seluruh apa yang sedang ada di hadapan kita terkait dengann gagasan puisi kita. Seluruh eleman yang terlibat di sekeliling manfaatkan. Panca indera difungsikan semuanya. Mulai dari penglihatan, pendengaran, penciuman, dan pengecapan, serta perabaan sampai perasaan terdalam.

5. Konsentrasi pada gagasan awal

Jangan hilang dari fokus awal menulis. Untuk itu Libatkan daya khayalan untuk membawa konsentrasi pada gagasan yang kita ingin ungkapkan.  Dengan membawa semua fungsi indera tadi. Hilangkan setiap gangguan yang datang dan jangan pedulikan gangguan tersebut.


Berekpresi Bersma Teman-teman Menjadi Ide Tulisan
  • 6. Tuliskan semua yang terpikirkan.

Jika sudah mulai keluar pikiran-pikiran tertentu. Kata-kata yang mengungkapkan yang mewakili perasaan dan daya khayal maka ucapkan dan tuliskan. Dengan diucapkan tidak hanya pikiran yang mengenal tapi lidah dan pendegaran mengenali kata yang apa yang kita temukan dan ingin tuliskan. Tuliskan saja apa saja kata-kata yang kita dapatkan tersebut. Tidak usah dipikirkan kata-kata tersebut benar atau tidak. Yang penting diucapkan dan dituliskan. Nanti akan ada sesi mengedit tulisan tersebut. Tidak usah berpikiran nanti tulisan saya tidak bagus dan lain sebagainya. Buang pikiran-pikiran negatif jauh-jauh. Kalau apa yang kita tulis belum berjudul jangan diambil hati, judul akan muncul disaat terakhir-akhir proses penulisan ini. 

Contoh kata yang terpikirkan dan kemudian dituliskan.

Air laut tidak bosan-bosan ke arah pantai

Setiap waktu terus seperti itu

Apa yang engkau cari?

Apakah engkau takut kehilangan pantaimu?

Sehingga tiada lelah selalu engkau datangi

Gemuruhnya membuat mata hatiku bersuara

Mencari jawab diantaranya

Barangkali dari setiap air yang menuju ke pantai

Ada jawab yang terbawa

Rasamu yang asin mengenali lidahku

Karena percikkanmu mengenai mencari rasa

Agar engkau dikenali

Siapakah engkau?

Nah itu contohnya, selanjutnya apa?

7. Baca kembali tulisan yang kita buat untuk penilaian awal dan editing awal.

Jika merasa sudah cukup dengan apa yang ingin kita pikirkan dan dituliskan, maka mulailah untuk melakukan pengeditan.  Baca dan pahami secara detil apa yang kita tuliskan tersebut. Apakah tulisan kita sudah sesuai dengan pemikiran awal kita? Ketahui secara spesifik apa makna kata yang kita tulis. Ingat, bahwa puisi di tulis berdasarkan kata bukan kalimat. Jadi, kita bukan ingin membuat kalimat tapi kita menyusun kata demi kata untuk menghasilkan makna tertentu. Dalami energi apa yang kita bawa dalam kata yang ditempatkan tersebut. Jika merasa kurang cocok maka ubahlah sesuai dengan makna yang kita harapkan.

Melakukan penilaian dengan melihat penggunaan kata yang tepat atau tidak tepat. Sesuaikan dengan tulisan yang diangkat. Kata-kata penghubung yang tidak perlu dibuang. Buang Kata-kata yang keberadaannya tidak mengubah makna puisi.

Masukkan imagi atau citraan yang bisa memperkuat makna kata. Di bagian inilah perasaan dan daya khayal tadi berperan. 

Seperti contoh di atas;

Kata di baris kesatu di bait pertama, Air laut tidak bosan-bosan kea rah pantai. Bisa kita ubah dengan , Air laut berlari menggapai pantai. Coba rasakan beda citraan yang timbul, imagi yang menggambarkan sesuatu. Makna kata yang lebih kuat.

Kemudian baris kedua, Setiap waktu terus seperti itu, kita akan ubah misalnya menjadi , detik demi detik berlalu tak pernah lelah .

Baris ke tiga, Apa yang engkau cari?, kalau rangkaian kata-kata ini sudah cukup mewakili pemikiran kita abaikan, tidak usah dilakukan pengubahan. Begitu juga dengan baris keempat, Apakah engkau takut kehilangan pantaimu?. Bagaimana? Ada yang ingin diubah? Sudah cukup kali ya? Nah di  baris terakhir, adakah yang akan diubah? Sehingga tiada lelah selalu engkau datangi. Supaya kesannya lebih hidup, kita ubah menjadi, Tak kenal lelah selalu engkau jenguk

Begitu juga dengan bait kedua baris kesatu, lakukan analisa secara sabar dan detil. Gemuruhnya membuat mata hatiku bersuara, akan kita ubah menjadi. Gemuruhmu memancing hati melempar tanya. Lanjut ke baris kedua,  Mencari jawab diantaranya. Menemukan Jawaban . terus ke baris ketiga, Barangkali dari setiap air yang menuju ke pantai, menjadi Dari butir yang berlari membawa pesan. Di baris ke empat, kita coba maknai pesan apa yang ingin disampaikan. Ada jawab yang terbawa. Maknanya air membawa jawab dari pertanyaan sebelumnya. Kita coba ubah dengan, Jawab memecah seiring derai air leburkan diri.

Di bait ketiga, baris pertama, Rasamu yang asin mengenali lidahku. Di sini ada citraan pengecapan yang dialami penulis. Merasakan air laut yang asin. Rasamu asin mengenali lidah. Hilangkan kata “yang”, menghilangkannya tidak mengubah makna baris pertama. Kita juga menghilangkan sudut pandang yang digunakan yaitu “Ku” , yang terdapat di akhir baris tersebut. Di baris kedua, Karena percikkanmu mengenai mencari rasa, kia hilangkan kata “kerena” maka berubah menjadi “Percikkanmu mengenai mencari rasa”. Bagaimana di baris ketiga dan keempat? Agar engkau dikenali. Siapakah engkau?. Dua kalimat yang mengungkapkan keinginan air dan pertanyaan siapakah air laut? Kita akan tetap menggunakan dua kalimat tersebut, karena mewakili makna yang disampaikan dari bait sebelumnya. Di baris keempat kita hilangkan suku kata “kah”. Karena, pesan yang ingin kita sampaikan adalah pernyataan bukan pertanyaan. 

Nah bagaimana? Akhirnya setelah melalui pengubahan maka puisi tersebut akan seperti …

Mari kita lihat pengubahannya.

Menjadi Sumber Inspirasi

Contoh:

Air laut berlari menggapai pantai

Detik demi detik berlalu tak pernah lelah

Apa yang engkau cari?

Apakah engkau takut kehilangan pantaimu?

Gemuruhmu memancing hati melempar tanya

Menemukan Jawaban

Dari butir yang berlari membawa pesan

Jawab memecah seiring derai air leburkan diri.

Rasamu asin mengenali lidah

Percikkanmu mengenai mencari rasa

Agar engkau dikenali

Siapa engkau!

8. Lakukan editan lanjutan untuk membuat puisi menjadi lebih indah

Di langkah ini kita melakukan pengeditan ulang lagi untuk memastikan pesan kita bisa sampai atau tidak ke pembaca dengan menggunakan kata-kata yang tepat. Jika dirasa masih belum memuaskan maka lakukan editing lagi. Manfaatkan gaya bahasa yang tepat untuk menghasilkan efek tertentu dari puisi kita. Seperti pemanfaatan majas; Majas penegasan, majas perbandingan, majas sindiran, dan majas pertentangan.

9. Judul pada Karya.

Pada beberapa penulis ada yang terfokus pada menulis judul terlebih dahulu. Tapi pada beberapa orang, ada yang menulis karya terlebih dahulu baru kemudian memikirkan judul.

Judul perwakilan dari apa yang kita tulis. Judul tidak usah panjang, cukup singkat tapi padat, sehingga fungsinya tepat untuk mengutarakan maksud kIta.   

10. Dipublikasikan

Silakan dipublikasikan puisi yang telah dibuat. Dimana di publikasikan? Manfaatkan madding yang di sekolah. Manfaatkan mading tersebut untuk menyebarluaskan karangan. Buat komunitas yang ada kaitannya dengan tulis menulis, nah hasil karya bisa dipublikasi bersama komunitas tersebut. Bisa juga dengan memanfaatkan media sosial yang semakin banyak, ada facebook, instagram, atapun blog.

Bagaimana kalau karya kita dikritisi? Baguslah, itu media bagi kita untuk memperolah masukkan dari orang lain. Kita belajar dari kritikkan yang diberikan. Tidak usah tersinggung ataupun marah dengan kritik orang, jadikan kritik itu sebagai penopang yang membuat kita semakin kuat dan kokoh.

            Bagaimana? Sudah ok?

            Sudah siap untuk menghasilkan karya?

Mari memanfaatkan waktu untuk menghasilkan karya, apapun yang bisa kita hasilkan niatkan unutk beribadah padaNya.

Selamat belajar dan berkarya!

Kebersamaan sumber Inspirasi

Tinggalkan komentar