*Kabar Baik Kan Al Hazen*
Al Hazen, angkatan ke 9 SMAIT Insantama, dalam perencanaan, pekan depan akan mengarungi tanah Jawa untuk mencari setitik ilmu dan segenggaml pemahaman. Setitik dijadikan laut, segenggam akan digunungkan.
Al Hazen perjuangan itu butuh tantangan, tidak sempurna pejalanan yang dilakukan jika tidak berhadapan dengan tantangan. Kemanangan itu dimana didapatkan? Pada saat kita berhasil menundukkan tantangan tersebut! Dan apakah kalian bisa? Itu yang sedang diuji! Memang, sangat tidak bisa dicerna oleh akal sehat. Saat kaki akan mencoba menunaikan penggemblengan berikutnya, Ikhtiar kalian dipatahkan oleh serbuan virus yang tidak hanya menggoncang Indonesia tapi juga merontokkan seluruh persendian Dunia, telah memakan banyak korban. Agar kalian juga tidak terpapar oleh virus maka keputusan besarpun perlu diputuskan, dan kalian telah melakukannya.
Apa yang kalian putuskan bukanlah sebuah kegagalan, tapi sebuah keberanian membuat keputusan di tengah-tengah kemelut. Seorang pemimpin yang besar diuji tidak hanya dengan tantangan yang kelihatan di mata, tapi juga diuji oleh kepintaran dalam membaca lingkungan sekitar. Itu yang kemaren kalian perankan, ada masalah di hadapan mata kemudian apa keputusan yang harus dibuat agar semuanya selamat?
Terlepas dari semua yang sudah diputuskan, ada hal yang perlu dilakukan, apa itu ? Bercerminlah dengan cermin yang bening dan bersih. Untuk apa? Melakukan koreksi diri, melakukan analisis terhadap apa yang telah dilakukan. Selama ini, setiap rentetan kegiatan pembekalan yang dilalui selalu diembeli dengan membawa nama Allah. Nah … jangan-jangan nih ada masalah dengan hal tersebut. Apa itu ? tentunyalah kalian semua yang berjumlah kurang lebih 120 orang yang lebih tahu.
Kalau kami yang berada di luar hanya menerka-nerka. Ada kalanya menerka kami tidak sesuai dengan apa yang sejatinya terjadi di dalam tubuh kesatuan kalian. Tapi, mari kita coba menelaah satu persatu;
Pertama, bagaimana kekompakkan yang kalian bangun? kalau orang minang menyampaikan apakah tim ini sudah *sadanciang bak basi saciok bak ayam?* Atau *ringan samo dijinjiang barek samo dipikua?* Oh bingung ya? Gini saja, apakah tim yang kalian bangun ini semua timnya sudah satu visi dan misi? Cobalah telaah ke semua tim. Kalau boleh diibaratkan lagi, kita sedang menaiki sebuah gerobak, gerobak sedang menanjak, tapi ada beberapa orang yang mencoba bergelayutan di gerobak. Ada juga sebagian yang menahan laju gerobak, atau ada juga yang secara iseng menambahkan beberapa beban tidak perlu untuk dimasukkan ke gerobak, sehingga beban gerobak bertambah. Beberapa nggota tim yang telah menyatukan visi dan misi nampak konsisten mendorong gerobak untuk sampai di puncak. Kegiatan beberapa anggota tim yang tidak sejalan dengan visi dan misi tim menjadi penghalang gerobak untuk sampai di puncak. Harusnya diapain anggota tim yang seperti itu?
Kedua, nah ini berhubungan dengan ikhlasnya guru/ustadz/ah kalian memberikan doa. Apakah kalian sudah pernah mendatangi guru/ustadz/ah untuk meminta dukungan do’a? JIka sudah pernah dilakukan, cobalah lagi. Bujuk hati guru kalian untuk melantunkan doa ikhlasnya demi perjuangan kalian yang memang berat ini. Tak ada gading yang tak retak, di situlah memohon maaf kepada guru. Barangkali karena tindak tanduk seharian, uacapan atau mungkin karena keisengan membuat hati guru terluka. Temui dan bujuk agar beliau memaafkan yang sudah terjadi dan membantu kalian dengan doa. Ikhtiar boleh kan? Lembutkan hati untuk menggapai hal yang lebih besar, tidak hina untuk meminta maaf, apalagi ke guru/ustadz/ah, ikhtiar menjalani untuk menyudahi.
Ketiga, bagaimana dengan orang tua kalian? Sudahkah kalian melembutkan hati mereka berdua? Mereka yang telah bersusah payah, megorbankan apa saja untuk menyenangkan hati kalian. Sudahkah kalian menyenangkan hati mereka, sehingga dari hati mereka paling dalam tercurah doa yang akan mengguncang ArsyNya, sehingga apapun keinginan kalian akan tercapai. Kita tidak tahu, barangkali dalam tindak tanduk ataupun ucapan kalian terselip kekerasan yang membuat hati mereka terluka, dan luka yang terbentuk tidak mudah untuk disembuhkan. Datangi dan bersimpulkah di hadapan beliau, uraikan tangismu untuk meminta ikhlas mereka. Jika sekeping hati yang mereka miliki telah kalian genggam dengan keindahan maka apapun mimpi yang kalian tebar akan mampu terjaring, In shaa Allah. Lakukan tidak usah menunggu esok, jika hari ini ketemu dengan beliau, lakukanlah. Pintu hati mereka adalah gerbang bagi kalian menundukkan murka Allah. Takkan harimau memakan anaknya!
Keempat, bagaimana hubungan kalian dengan sang khalik? Apakah kalian manut dengan semua suruhan Allah? Apakah semua kewajiban sudah ditunaikan. Atau jangan-jangan kalian gagal menjalin hubungan baik dengan Allah? Di sekolah kalian semua diajarkan bagaimana mendekatkan diri dengan Allah. Sholat wajib lima waktu jangan lalaikan. Sholat sunat dilakukan sebagai pembujuk terbaik. Ada Solat rawatib dan Qobla, witir jangan lupa dikerjalan, apalagi Tahadjud, memberikan kita akses langsung untuk langsung berkomunikasi dengan sang Kuasa. Ditambahi lagi dengan Dhuha, zikir kalian ke pada Sang Pemurah, agar diberikan kalian kemurahan dalam menjalankan hari-hari yang memang sulit agar kalian terbentuk menjadi genarasi yang kuat. Kuatkan hari dan kepercayaan diri dengan terus membaca Al Quran. kalian sudah dibekali membaca alquran dengan metode TES. Apakah itu tidak dikerjakan? Susupkan ayat-ayat Allah ke relung hati dan peredaran darah kalian, maka setiap denyutan nadi kalian akan mendendangkan zikir, untuk memberikan kemudahan bagi kalian dalam meggayung harapan. Tunaikan sedeqah semampumpu maksimal yang kalian bisa. Kenapa tidak? Dengan sedekah kalian telah membantu orang lain, maka Allah sendiri yang akan membantu kalian untuk mencapai keinginan yang telah kalian goresan itu.
Kelima, berbaiklah kalian dengan saudara. Mana Saudara kalian? Di sekolah, ya teman-teman kalian, baik itu yang kakak kelas ataupun adik kelas. Mereka adalah saudara kalain. Sudahkah kalian berbaik dengan mereka? Atau kalian telah menjadi orang yang zalim karena memperlakukan saudara dengan tidak baik? Ingat, doa orang yang tertindas akan sangat diterima oleh Allah dan kalian telah menjadi korban dari tindak tanduk sendiri.
Nah … selagi sekarang sedang beristirahat di rumah, lakukanlah intropeksi diri secara baik dan tulus. Lihat ke diri sendiri, jangan lihat orang lain, Jangan lihat teman-teman yang lain. Tapi lihatlah diri sendiri. Makanya gunakan cermin yang bersih dan mengkilat agar pantulannya juga jelas terlihat. Jangan juga, buruk rupa cermin dibelah, Tak ada jalan yang tak berlubang, tapi kita harus berusaha tetap mejadi yang terbaik dengan segala opsi terbaik yang bisa dilakukan.
Selanjutnya apa? Jangan patah semangat. Tetap menggelorakan perjuangan. Berjalan belum sampai ke batas, berlayar belum sampai ketepian. Ini hanyalah salah satu episode penguji agar kalian tetap gigih menggapainya. Jangan sampai kalian sebagai generasi yang tercatat di buku besar sebagai generasi yang tidak mengecap indahnya mengelilingi kampus terbaik di Indonesia dalam tajuk “Tour De Java”. Kalian harus mampu menggapainya.
Sa



kit? Siapa yang tidak akan merasakan sakitnya. Perih? Apalagi itu! Tidak usahlah kalian ceritakan bagaimana rasanya. Kami ikut merasakannya, di bibir saja terlihat senyuman di hati tidak terkata isinya. Tapi .. jadilah kalian itu seperti sepucuk batang ubi kayu yang pucuknya di patahkan, esoknya dia akan bertunas dan tumbuh lagi dan terus bertumbuh sehingga mampu memberikan mamfaat kepada yang lainnya.
Hei … Al Hazen, yang kuat ya? Ini langkah menuju kalian menjadi generasi yang akan matang menghadapi tantangan di depan. Belajar untuk menjadi baik dan terbaik. Jadi, mari singkirkan kerikil – kerikil yang menghadang perjalanan kalian, terlepas apakah kerikil itu tajamnya setajam silet, tetap berusaha untuk menyingkirkannya. Maka impian kalian untuk menjelajahi tanah Han-Guk akan terwujud, serta sempurna menjadi generasi Al Hazen sesuai dengan namannya.
Kami tunggu teriak salam kekompakkan kalian …
*AL HAZEN KAMKKE..* STRIDE TO KOREA JUNBI,
SIJAK..!!
*BI IDZNILLAH, ALLAHU AKBAR*
KAJJA ..!!
Bogor, 15 Maret 2020
@W