Corona oh Corona

Corona oh Corona

Berasal dari negeri nun jauh di sana. Berjalan waktu akhirnya sampai juga di negeri yang katanya syurganya kehijauan ini.

Katanya, di negeri asal wabah, wabah ini sudah tertangani. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan, mulai dari dana yang trilyunan sampai kesiapan dan kesigapan para pejabatnya hingga petugas kesehatan serta kemauan masyarakatnya. Itu di negeri tirai bambu.

Nah … Bagaimana dengan negeri ini?

Berdasarkan fakta dari berita yang terangkum di banyak media nasional, dan tidak terbantahkan. Ada pejabat yang mengatakan kita orang negeri ini pada kuat. Kita sudah biasa makan nasi kuning. Hingga ada yang memperolok-olok salam siku. Tapi, seperti sebuah geluduk di siang malam, mulailah pejabat tadi diisolasi karena terduga disapa virus Covid 19. Karena demam dan baru diduga.

Apa tindakkan pemimpin tertinggi di negeri yang katanya kaya ini. Setelah ada pejabat yang terserang, baru beliau berbicara. Nege

ri ini dalam penanggulangan bencana nasional wabah Corona. Tapi, dari keputusan yang disampaikan tidak ada penyetopan orang yang keluar dan masuk negeri indah ini. Lha kok bisa ? Entahlah ….

Ada pemimpin di sebuah daerah, yang dengan kewenangan yang dimilikinya dia melakukan sesuatu yang strategis. Dengan ilmu yang dimiliki dan pemahaman yang tidak bisa diragukan dia membuat gebrakan. Kebijakan yang dia buat diikuti oleh pemerintah yang ada di atasnya. Tapi sayang, dia bukan pemimpin negeri ini yang katanya negeri dengan sejuta keindahan.

Bagaimana dengan rakyatnya? Adakah kegelisahan? Tentunya ada, terutama pada anak-anak mereka yang sedang menempuh pendidikan. Terutama yang menempuh pendidikan di sebuah lembaga yang seluruh siswanya itu di asramakan.

Peribahasa mengatakan, rambut boleh sama hitam tapi isinya beda-beda. Itulah yang sebetulnya terjadi. Beberapa orang tua, ada yang meminta anak-anak dipulangkan. Kewenangan pengawasan ada pada orang tua. Anak-anak akan lebih aman dalam pengawasan orang tua. Anak-anak akan diberikan asupan protein terbaik selama dikondisikan di rumah. Diberikan pelayan terbaik sehingga mereka aman, nyaman dan sehat. Itu logika sederhana. Tapi kalau yang terjadi sebaliknya? Seperti yang terjadi di Italy. Anak-anak diliburkan, diajak liburan akhirnya terjangkit virus, sampai-sampai Italy di kondisikan dalam keadaan darurat. Sehingga diputuskan untuk lockdown.

Ada juga orang tua yang menginginkan anak-anaknya tetap di boarding. Dengan prasangka baik, anak-anak akan terhindar kontak dengan orang lain. Orang-orang yang berinteraksi dengan pembawa virus tersebut. Sekolah bisa melakukan lockdown. Anak-anak akan diisolasi di Boarding. Dalam hal ini juga dilakukan pengawasan melekat dari seluruh civitas akademika dan juga peran aktif orang tua.

Dari kebijakkan memulangkan siswa ke rumah orang tua. Tentunya bagi guru dan pengurus yayasan akan sangat meringankan beban mereka. Mereka tidak harus memusingkan keadaan anak-anak. Karena mereka juga tidak akan mampu untuk selama 24 jam melakukan proteksi pada anak-anak. Anak-anak sekarang itu pada pintar dan kreatif, dilarang yang ini mereka akan melakukan yang itu. Ini dan itu sama bahayanya. Mereka berdalih, kenapa melakukan hal itu? Karena yang itu tidak dilarang. Namanya juga anak-anak.

Apakah dengan memulangkan anak-anak masalah selesai? Tentunya tidak. Kenapa? Menurut analisis dari pakarnya pakar virus. Wabah virus ini akan semakin meninggi. Dan waktu peninggian prosesnya itu 40 – 80 hari ke depan. Kapan itu? Bisa jadi pada waktu anak-anak balik ke boarding atau asrama. Nah itulah hal yang paling ditakutkan, resiko terjangkit virus akan semakin tinggi karena interaksi dengan orang lain selama perjalanan.

Tapi, anak-anak sudah diperbolehkan pulang dengan syarat dijemput orang tua. Selamat belajar di rumah. Aktivitas tidak usah kemana-mana, lakukan apapun di rumah. Keluar rumah jika dirasa memang sangat diperlukan. Jangan kalian meminta ke orang tua untuk bertamasya ke objek wisata, karena tempat itu adalah lokasi terbaik penyebaran virus ini.

Terakhir, bagaimana dengan nasib guru? Atau pegawai swasta? Kalau ASN sudah ada intruksi untuk aktivitas perkantoran dilakukan dari rumah. Keluar rumah dilakukan jika hal tersebut dirasa sangat perlu. Kegiatan tersebut tentunya tidak akan mengurangi pemasukan bulanan mereka.

Namun, bagaimana dengan pegawai swata? Bisakah mereka melakukan kerja dari rumah tanpa mengurangi pemasukan bulanan mereka? Untuk guru misalnya, siswanya diliburkan tapi guru masih disuruh masuk. Kemudian apa yang akan dilakukan di sekolah? Kemungkinan menyempurnakan administrasi sekolah dan penyiapan bahan-bahan pembelajaran.

Terakhir, semoga wabah ini cepat berlalu dengan tidak menyisakan kesedihan mendalam. Mari belajar dari kasus ini, untuk tetap merendahkan diri dan hati di hadapan Illahi rabbi. Jangan menyombongkan diri, karena siapalah kita ini?

Tinggalkan komentar